Umm... teman-teman yang baca kompetisi blog ini pasti sekarang sudah dapat banyak info tentang Belanda dan studi di Belanda. Udah nggak ada keraguan lagi kan untuk memilih Belanda sebagai tujuan studi kamu? Hah? Masih ragu? Oke... mungkin yang berikut ini bisa membuat kalian lebih yakin dan berniat langsung mengirimkan aplikasi pendaftaran di universitas-universitas di Belanda (juga siap-siap mengajukan beasiswa ke Neso).
Ini hasil wawancara saya dengan seorang mahasiswa Indonesia yang sudah menamatkan pendidikan strata dua di Belanda. Hehe.. sebenarnya dia senior saya dulu saat kuliah di Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Nama senior saya itu Feba Sukmana Dia baru saja lulus dari Studi Kebudayaan Universitas Leiden. Sekarang, dia masih tinggal di Belanda, menjadi seorang penyiar di sebuah Radio Nederland Wereld Omroep. Suaranya mengudara, mendunia. Sudah siap membaca pengalaman Feba, kuliah dan tinggal di Belanda?
Waduh saya bingung harus menceritakan dari mana? Mari mulai saat Feba menamatkan studi sarjananya di PS Belanda. Feba, seniorku yang paling pinter itu, kalau nggak salah dua tahun setelah kelulusannya, dia apply beasiswa Huygens ke Neso. Karena Feba memang yang terbaik (paling pinter maksudnya) di angkatannya, jadi tak ada aral melintang untuk mendapatkan beasiswa yang diberikan pada 10 persen (bukan sepuluh orang terbaik dari kampus! Hehe.. hal ini sudah dikonfirmasi ke salah satu peerwakilan Neso yang menggelar tenda di Jobfair UI) mahasiswa terbaik dari setiap universitas.

Oya, sebelum menyelami lebih dalam pengalaman Feba, saya jadi lupa menjelaskan alasan Feba memilih Belanda sebagai tujuan studinya. Alasan pertama sudah jelas. Background pendidikan Feba, sastra Belanda menjadi alasan kuat mengapa dia memilih Belanda. “Belanda menawarkan banyak banget beasiswa,’ itu alasan keduanya. Memang nggak bisa dipungkiri, Pemerintahan Kerajaan Belanda itu loyal banget memberikan beasiswa dalam jumlah yang signifikan ke Indonesia. Kalo nggak salah 200 orang ya per tahun yang dikirim belajar ke Belanda (hayoo teman-teman dari Neso, mohon dikoreksi kalau salah :p). Terakhir, tentunya karena mutu pendidikan di Belanda yang nggak perlu diragukan lagi.
Feba mendaftar ke Universitas Gronningen. Tapi terpaksa pindah ke Universitas Leiden lantaran mahasiswa yang mendaftar di Gronningen tidak memenuhi kuota. So... dit mooie meisje akhirnya menempuh pendidikan S2 di Leiden (jurusannya udah tau ya!! Di atas udah disebutin). Dan pengalaman hidup untuk kedua kalinya di Belanda pun dimulai (sebelumnya Feba udah pernah ke summer course ke Belanda. Beasiswa dari kampus).
Nah, Di Universitas Leiden, khususnya di jurusan Culture Study yang notabene kelas Internasional, Feba bertemu banyak mahasiswa dari berbagai negara. Beragam deh, ada yang dari Cina, India sampai Denmark. Dan keanekaragaman di dalam kelas ini bukan menjadi batu kerikil buat Feba. “Berutung banget bisa satu kelas dengan pemikir hebat dari negara lain. Memperkaya pengetahuan,” jelas Feba. Feba cerita kalau lebih mudah beradaptasi dengan mahasiswa Internasional dibandingkan dengan mahasiwa Belanda. “Mungkin karena sama-sama merasa perantauan ya?” kata perempuan berambut panjang ini. Di kelas yang multikultural ini Feba juga menyaksikan betapa berbedanya budaya masing-masing negara. Kadang-kadang perbedaan itu menjadi sesuatu yang menggelikan, lucu.
Bagaimana dengan suasana belajar? Ya, Feba mengaku banyak perbedaan dengan cara belajar di Indonesia. “Kita jelas dituntut untuk lebih mandiri,” jelas Feba. Selama ini, cara belajar kita cenderung “dicekoki’ oleh pengajar. Nah, di Belanda, segalanya harus dikerjakan sendiri. Dosen hanya berperan sebagai moderator. Feba berkisah setiap kuliah ia harus menyiapkan bahan kuliah sendiri. “Entah itu baca, riset, apapun itu, pokoknya dipersiapkan sebelum kuliah,” tutur Feba. Saat di kelas, bahan yang sudah dipersiapkan itu, didiskusikan. “Yang banyak ngomong tentunya mahasiswa. Dosen hanya sebagai moderator,” jelas Feba lagi. Setiap pertemuan akan ada mahasiswa yang presentasi dan dilanjutkan dengan debat. “Nah tugas dosen di situ mengarahkan jika debat sudah melenceng kemana-mana,”
Bagaimana dengan bahasa? Sudah tentu, seluruh mata kuliah diberikan dalam bahasa Inggris. Namanya juga kelas Internasional. Lalu, jangan khawatir kalau kamu nggak bisa spreken in het Nederlands. Sekarang semua orang di Belanda menguasai bahasa Inggris dengan baik. “Orang yang suka minta-minta di depan stasiun pun suka nyapa gue pake bahasa Inggris... hehehe..” cerita Feba yang sekarang menjalin hubungan serius dengan pria Belanda. Hahaha... mungkin ini satu kelebihan lain belajar di Belanda. Bisa merajut hubungan cinta dengan pria tampan Belanda. Hihihi….
Selama di Leiden, Feba nggak hanya sibuk kuliah. Feba menyempatkan diri untuk kerja paruh waktu. Di waktu senggangnya Feba sempat menjadi guru privat bahasa Indonesia untuk orang-orang Belanda yang berminat pada bahasa Indonesia. Babysitting pun dilakukannya. Ya.. kalau di sini hampir nggak ada mahasiswa yang melakukan babysitting. Tapi di negara-negara Eropa, babysitting merupakan hal biasa bagi mahasiswa. “Hehe.. gue juga sempet jadi model lukisan potret di akademi seni Leiden. Tapi Cuma muka ya, nggak pake telanjang-telanjangan,” imbuh Feba. Umm.. menyenangkan banget ya kehidupan Feba di Belanda? Kuliah, dapat ilmu. Kerja paruh waktu, dapat tambahan uang jajan sekaligus teman baru. Siapa tahu uangnya cukup buat backpacker keliling eropa? Kalian tahu kan Holland is gateaway to Europe. Pintu gerbang menuju Eropa. Jadi kalau kamu udah punya visa dan ijin tinggal di Belanda, ke negara-negara Eropa lainnya, kamu tinggal ngesooot dan modal dengkul aja! Nggak ada tuh namanya surat perijinan yang ribet. Zeer welkom in Europese Landen...
-tanda tangan Ratu Beatrix- -tanda tangan Feba-


Dan ini pasti yang bikin kamu makin mupeng membaca pengalaman Feba. Ini sebuah tradisi di Universitas Leiden. Setiap mahasiswa yang menamatkan pendidikannya di Leiden, mereka akan mencatatkan namanya di salah satu dinding gedung universitas Leiden. Dan kamu tahu siapa yang pernah menorehkan namanya di situ? Koningin Beatrix, Ratu Belanda, mencatatkan namanya sebagai alumnus Leiden tahun 1961. Gilaaa... bayangin nama kamu disandingkan dengan Ratu Belanda. Such an honor banget!!
Soooo… sekarang sudah yakin banget untuk menempatkan Belanda sebagai negara utama tujuan studi kamu? Yaaaay…. Kalau tulisan ini berhasil meyakinkan kamu, saya seneeeeng banget!!! Oke, teman… sampai ketemu di Belanda ya…. Doei… Tot ziens.-rizkyamelia-
foto: pinjam dari blog Feba: malamberbintang.blogspot.com dan google.

baca juga artikel ini di sini:
http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/sekampus-dengan-ratu-beatrix-sebuah-pengalaman-mahasiswi-indonesia-di-belanda.html